Assalaamu'alaikum

Selamat datang di forum Da'wah Islamiyah yang insya Allah akan selalu memberikan ikhtisar-ikhtisar menurut Al-Qur'an dan Sunnah

Minggu, 24 Juni 2012

Pandangan Imam Al-Ghazali Tentang Takabbur dan ‘Uzub



DEFINISI TAKABBUR
Takabbur (sombong) ialah perilaku menolak kebenaran dan meremehkan manusia dengan anggapan kepandaiannya lebih hebat dan lebih tinggi derajat maupun pangkatnya dari pada yang lain.
Sifat-sifat sombong, takabbur dan angkuh merupakan suatu penyakit yang sangat berahaya. Sifat-sifat itu bermula dari kesalahan pertimbangan akal yang memandang seolah-olah yang mulia dan terhormat adalah dirinya sendiri, sedangkan orang lain dinilai dengan pandangan mengejek, menghina dan merendahkan. Sebagai akibat dari pandangan yang salah itu, lidahnya tidak segan-segan melampiaskan kesombongannya dengan ucapan, “Inilah Aku, dan itu Aku”, seperti ucapan iblis yang dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :
قَالَ أَنَا۟ خَيۡرٌ۬ مِّنۡهُ‌ۖ خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ۬
“Iblis berkata, “Aku lebih baik dari padanya (Adam), aku Engkau ciptakan dari api, sedang dia ciptakan Engkau dari tanah.” [Shaad : 76]
Di dalam majlis pergaulan sifat-sifat yang busuk itu akan menjelma menjadi bentuk tindakan-tindakan membanggakan diri sendiri, berusaha tampil kedepan; dan di dalam majlis perdebatan sifat-sifat itu akan membawa seseorang menjadi keras hati, sehingga apapun yang di ucapkannya harus menjadi keputusan (tidak boleh dibantah) sekalipun salah.
    Orang yang takabbur ialah orang yang manakala diberi nasehat ditolaklah nasehat itu, sebaliknya jika ia memberi nasehat, maka siapapun harus menerimanya.
    Oleh karena itu siapapun yang memandang bahwa dirinya lebih baik dari pada orang lain, maka orang tersebut termasuk golongan orang sombong/takabbur.
    Jadi dalam hal ini jika kebetulan engkau melihat seseorang yang belum cukup dewasa, maka hendaklah engkau berkata pada dirimu : “Anak ini belum pernah berbuat maksiat, sedangkan aku sudah sering berbuat dosa, maka jelaslah dia lebih baik dari padaku.”
    Jika engkau melihat seorang tua, maka hendaklah engkau berkata pada dirimu : “Orang ini telah berbuat banyak dari berbagai keta’atan sebelum aku berbuat apa-apa, maka sudah semestinya ia lebih baik dari padaku.”
    Jika engkau melihat seorang guru, maka hendaklah engkau berkata kepada dirimu : “Orang ini telah dianugrahi ilmu yang tidak aku miliki, ia telah berjasa memberikan ilmunya, maka mengapa aku masih jua memandang bodoh kepadanya, padahal seharusnya aku bertanya bagaimana bisa berbuat semacam itu.”
    Jika engkau  melihat seorang bodoh, hendaklah engkau berkata kepada dirimu : “Orang ini telah berbuat dosa karena kebodohannya, sedangkan aku telah melakukannya dengan penuh kesadaran bahwa hal itu adalah suatu maksiat, maka beban tanggung jawabku lebih berat dari pada beban yang di pertanggung jawabkan. Dan akupun tak tahu bagaimana nasibku dan bagaimana pula nasib yang akan ia terima pada akhir hayatnya.”
    Jika engkau melihat orang kafir, hendaklah engkau berkata pada dirimu : “Aku tidak yahu barangkali ia akan menjadi seorang muslim dan hidupnya akan berakhir dengan penuh keta’atan kepada Allah, sehingga dosa-dosa yang telah ia perbuat akan hilang lenyap bagaikan debu yang tersapu dibawa angin lalu, sedangkan aku ... semoga Allah senantiasa melindungi diriku, siapa tahu barangkali Allah menyesatkan jalan hidupku dengan penuh kemaksiatan. Maka jika demikian, tentulah ia termasuk golongan orang-orang yang dekat disisi Allah, dan aku berada diantara orang-orang yang tersiksa.”


“sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina dina” [Qs. Al-Mu’min : 60]

HAKEKAT DAN BAHAYA TAKABBUR
    Hakekat takabbur yaitu apabila seseorang melihat dirinya melebihi orang lain dalam sifat-sifat kesempurnaan, sehingga timbulah dalam dirinya takabbur dan bersemangat untuk berbuat jahat karena sifat yang hina dan keyakinan ini.
    7 amal yang ditolak oleh Allah SWT dan malaikat penjaga langit ke 1 s/d 7 :
1.    Orang yang suka memfitnah/ghibah
2.    Orang yang menghendaki kemanfaatan-kemanfaatan duniawi
3.    Takabbur/angkuh
4.    ‘Uzub (menyanjung diri sendiri)
5.    Tidak merasa belas kasihan kepada siapapun dari hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa malang atau kesakitan, bahkan ia merasa gembira jika melihat orang lain ditimpa bencana
6.    Sum’ah
7.    Musyrik
“Tidak dapat masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat debu dari sufat ketakabburan” [HR. Muslim]
    Hal-hal yang ditimbulkan oleh takabbur :
    Duduk lebih tinggi dalam majlis
    Berjalan mendahului dijalanan
    Memandang dengan pandangan hina dan marah jika tidak diberi salam dahulu dan jika dikurangi keperluan-keperluan dan kehormatan
    (membawa orang kepada) benci jika dinasehati
    Berlaku kasar jika memberi nasehat dan mengajar
    Memperkosa kebenaran sewaktu bertukar fikiran
    Memandang orang awam seperti memandang keledai
Sungguh besar bahaya takabbur ini, sehingga tidak masuk kedalam syurga, barang siapa yang ada didalam hatinya seberat atom dari pada takabbur itu, lebih-lebbih karena dibawah takabbur ini ada tiga macam kejahatan yang besar, yaitu :
1.    Sesungguhnya orang yang takabbur itu menentang kepada Allah dalam sifat-sifat-Nya yang khusus, karena takabbur itu adalah selendang Allah sebagaimana firman Allah :
“Sungguh keagungan itu tidaklah patut kecuali pada Allah! Dari manakah keagungan itu patut bagi hamba yang hina yang tidak menguasai urusan dirinya sedikitpun, lebih-lebih urusan orang lain?”
2.    Membawa orang yang takabbur kepada memperkosa kebenaran dan melanggar hak-hak makhluk lain.
Nabi SAW bersabda yang artinya : “Takabbur itu menentang kebenaran dan mendustakan manusia.”
Menyombongi kebenaran itu adalah menutup pintu kebahagiaan, demikian pula menghina manusia. Setengah Ulama berkata : “Sungguh Allah menyembunyikan tiga perkara dalam tiga hal :
•    Menyembunyikan keridloan-Nya dalam keta’atan kepada-Nya, maka janganlah sekali-kali engkau menghiina sedikitpun dari keta’atan itu; barangkali ridlo Allah ada didalamnya
•    Menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka janganlah sekali-kali engkau menghina kemaksiatan yang kecil barangkali murka Allah ada didalamnya
•    Menyembunyikan perwalian-Nya didalam hamba-hamba-Nya, maka janganlah sekali-kali engkau menghina seseorang dari hamba-hamba itu barangkali dia wali Allah Ta’ala
3.    Sungguh takabbur itu menghalangi antara seseorang dengan semua akhlak-akhlak terpuji. Karena orang yang takabbur itu tidak mampu mencintai manusia sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Dan tidak mampu pula berendah diri dan meninggalkan perasaan tinggi hati, hasud, serta marah. Tidak mampu pula menahan diri, lemah lembut dalam memberi nasehat dan meninggalkan riya’.
وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌ‌ۚ أَلَيۡسَ فِى جَهَنَّمَ مَثۡوً۬ى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah neraka jahannam itu sebagai tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” [Qs. Az-Zumar : 60]

Unsur-unsur yang dapat menimbulkan kesombongan :
a.    Ilmu pengetahuan
وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang briman.” [Qs. Asy-Syu’ara : 215]
b.    Ibadah dan amal shaleh
“Ketakwaan itu disini (yakni dalam hati). (dan beliau menunjukan ke arah dadanya).” [HR. Muslim]
c.    Keturunan
“Hai Abu Dzar, tidak ada kelebihan bagi seorang keturunan kulit putih atas orang yang dari keturunan kulit hitam.”
Alangkah menyesalnya saya berkata seperti itu. Lalu saya membaringkan tubuhku dan berkata orang yang saya sombongi dan hinakan tadi, “Nah saudara, berdirilah, injaklah pipiku ini.” [HR. Ibnul Mubarak dan Ahmad]
d.    Kekayaan
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ‌ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَـٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُ ۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ۬

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahan. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.’ Sesungguhnya ia mempunyai keberuntungan yang besar.” [Qs. Al-Qashash : 79]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar